Pernahkah anda suatu saat sedang lelah dan penat di malam hari sehabis mengerjakan aktivitas seharian? Pasti anda ingin beristirahat atau paling tidak mencari hiburan untuk menenangkan pikiran sejenak. Paling mudah anda akan menyetel televisi anda untuk menonton acara televisi. Celakanya, siaran televisi kita sangat mengecewakan! Jujur saja, penulis dan juga sebagian orang-orang akan bingung memilih acara televisi yang ingin benar-benar ia tonton. Menyetel stasiun televisi A kita akan disuguhi acara semacam pencari bakat dangdut, geser ke channel berikutnya, acara serupa tapi tak sama yaitu acara pencari bakat musik juga. Tapi ini lebih tidak punya konsep yang jelas karena selain pop, terkadang dangdut, terkadang juga jenis yang lain. Uniknya, acara ini mulai dari selepas maghrib hingga orang akan tidur larut malam. Ke stasiun tv lain, giliran sinetron mempertontonkan ceritanya. Hebatnya lagi, habis sinetron satu, disambung dengan sinetron lagi. Model ini juga ditiru stasiun televisi pesaingnya. Stasiun televisi yang lain setali tiga uang. Acara satu mungkin akan tidak ditayangkan minggu depannya. Karena stasiun televisi ini bingung mau mengisi acara apa untuk jam tertentu. Sungguh, sebagai penonton yang berhak mendapatkan tontonan yang berkualitas saja, kenyataan tersebut masih jauh.
Mungkin stasiun televisi bisa berkilah buktinya “ penonton acara ini banyak?”, atau “sharenya tinggi!”. Masalahnya adalah pertama, mungkin penonton “terpaksa” menonton acara itu semua sehingga “rating” atau “share”nya tinggi karena yang tersedia hanya acara sejenis. Penonton terpaksa menonton karena mereka tak punya alternatif untuk acara apa yang akan mereka tonton. Sinetron dengan cerita busuk dan penuh tipu muslihatkah yang perlu ditonton untuk mencari hiburan? Atau menonton acara menyanyi yang tidak pernah jelas kemana akhirnya para bintang hasil acara itu?
Kedua, mungkin alasan pertama bisa diperdebatkan kalau alasan itu hanya berasal dari kacamata segelintir orang yang tidak mewakili mayoritas penonton. Tapi jika dilihat siapa kaum minoritas yang berani mengatakan acara televisi kita “mengkhawatirkan” adalah mereka yang berfikir kritis jika tak mau disebut “terdidik”. Bukankah orang-orang “terdidik” yang harus membawa perubahan untuk menciptakan keadaan yang lebih baik? Maaf saja, meski subyektif tapi penulis sendiri berani mengatakan bahwa sinetron-sinetron yang ada di televisi hanya sebuah cerita murahan sebagai bagian dari media yang punya tugas dan tanggung jawab mencerdaskan bangsa. Mungkin “mental” sinetron yang membuat Indonesia sangat pintar untuk mengeksploitasi cerita horor dan seks yang celakanya sekarang film Indonesia juga adalah imitasi dari film asing luar negri.
Televisi Indonesia terjebak dalam pakem yang menyesatkan. Tapi itupun juga kembai diperdebatkan. Riset pasti sudah dilakukan sehingga sang programmer televisi bisa menempatkan acara ini bisa tampil di jam seperti ini karena penonton mayoritas adalah kaum A, atau jam segini adalah untuk kelompok B maka acara yang pas adalah acara yang C. Makanya, jangan terkejut melihat jam jam sore televisi akan dipenuhi acara infotainment yang nggak punya fungsi atau manfaat secara konkret untuk masyarakat. Apakah bermanfaat mengetahui si A bercerai dengan si B, atau Si C menikah dengan si A lagi? Manfaat hiburankah perceraian orang lain bagi penonton televisi? Sakitlah mental masyarakat Indonesia, ketika cerita orang diumbar ke televisi untuk hiburan orang. Ini termasuk perdebatan apakah infotainment menyandang gelar” jurnalisme” di depan kata “infotainment” melihat manfaat yang tak banyak bisa diperleh di sana. Kemudian, pertanyaannya adalah setelah mengetahui siapa kaum mayoritas penonton saat itu? Haruskah dengan acara itu? Haruskah bangun di pagi hari disuguhi dengan infotainment? Kemudian siang nanti infotainment lagi ,sore kembali infotainment lagi. Mengapa tidak dicoba dengan acara yang merangsang pengetahuan berfikir supaya masyarakat Indonesia tidak menjadi yang lebih senang gosip dari pada membaca. Supaya tingkat baca di Indonesia bisa naik daripada menghabiskan waktu dengan gosip yang tidak bermutu. Mengapa jam untuk mencari hiburan yang mayoritas untuk keluarga harus diisi sinetron yang hanya menang di tangis, urusan cinta, niat jelek tokoh-tokohnya. Ada pakem-pakem yang harus diubah supaya televisi tidak terjebak dalam “rutinitas acara” yang itu-itu saja.
Mungkin agak terasa naif, bila melihat televisi adalah industri bisnis padat modal. Ketika acara yang baru belum tentu bisa diterima penonton yang terbiasa dengan sinetron atau infotainmet, maka resiko itu akan jarang sekali diambil. Tetapi ketika hanya terpaku hanya pada jenis-jenis itu –itu saja dan tak ada yang berniat untuk merubah itu semua. Maka, sebelum ada perubahan radikal pada acara-acara televisi kita terutama di malam hari, ada anjuran yang baik jika kita lelah selesai beraktivitas. Istirahatlah, dan jangan menonton televisi.
sumber foto : www.detik.com





